Gresik – Kabar Nusantara Id Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur, terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan sistem pembinaan pemasyarakatan yang berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui program pembinaan kemandirian, Rutan Gresik menggandeng PT Arta Jayendra Perkasa untuk menyelenggarakan pelatihan keterampilan merajut bagi warga binaan sebagai bekal membangun kehidupan yang lebih produktif dan mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.
Kegiatan yang digelar di Aula Rutan Gresik pada Kamis (2/7) tersebut menjadi bagian dari implementasi pembinaan vokasional yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi kerja warga binaan. Program ini tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, kreativitas, serta mental kewirausahaan sehingga warga binaan memiliki kesiapan menghadapi kehidupan sosial dan ekonomi ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pelatihan merajut dilaksanakan secara bertahap dengan metode pembelajaran yang sistematis dan aplikatif. Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis alat dan bahan, mempelajari teknik dasar merajut, hingga mempraktikkan secara langsung pembuatan beragam produk yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi memiliki nilai ekonomi. Pendekatan berbasis praktik tersebut memberikan pengalaman nyata kepada warga binaan agar keterampilan yang diperoleh dapat terus dikembangkan menjadi peluang usaha maupun bekal memasuki dunia kerja.
Suasana pelatihan berlangsung penuh semangat. Para warga binaan mengikuti setiap sesi dengan antusias, aktif berdiskusi dengan instruktur, serta menunjukkan ketekunan dalam mempraktikkan teknik-teknik yang diajarkan. Antusiasme tersebut mencerminkan tingginya motivasi peserta untuk memanfaatkan masa pembinaan sebagai kesempatan memperbaiki kualitas diri sekaligus mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Kegiatan ini turut dihadiri Pelaksana Harian (Plh) Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Anggi Fauzi, beserta jajaran PT Arta Jayendra Perkasa yang bertindak sebagai mitra pelaksana dan memberikan pendampingan teknis selama proses pelatihan berlangsung.
Dalam arahannya, Plh Kepala Rutan Gresik, Dhimas Isdwiyono, menegaskan bahwa pembinaan berbasis keterampilan merupakan salah satu investasi jangka panjang dalam mewujudkan tujuan sistem pemasyarakatan, yakni mengembalikan warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik, mandiri, dan mampu berkontribusi positif di tengah masyarakat.
Menurutnya, kesempatan memperoleh ilmu dan keterampilan selama menjalani masa pidana harus dimanfaatkan secara optimal sebagai modal membangun masa depan yang lebih cerah serta mengurangi risiko pengulangan tindak pidana.
“Pelatihan ini bukan sekadar mengajarkan teknik merajut, tetapi juga membentuk pola pikir untuk terus berkarya dan mandiri. Saya berharap seluruh warga binaan mengikuti setiap proses dengan serius sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat. Keterampilan yang dimiliki dapat membuka peluang usaha, meningkatkan taraf hidup, sekaligus menjadi langkah nyata untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lalu,” ujar Dhimas.
Ia menambahkan, keberhasilan pembinaan pemasyarakatan tidak hanya diukur dari selesainya masa pidana, tetapi juga dari kemampuan warga binaan menjalani reintegrasi sosial secara positif. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi kerja melalui pelatihan vokasional menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus memperluas peluang memperoleh pekerjaan maupun membangun usaha secara mandiri setelah bebas.
Kolaborasi antara Rutan Gresik dan PT Arta Jayendra Perkasa menjadi wujud nyata sinergi antara institusi pemasyarakatan dengan sektor swasta dalam mendukung peningkatan kualitas pembinaan warga binaan. Kemitraan tersebut diharapkan terus berkembang melalui berbagai program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, industri kreatif, serta perkembangan sektor usaha mikro dan menengah sehingga keterampilan yang diperoleh semakin adaptif terhadap tuntutan zaman.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga mencerminkan pendekatan pemasyarakatan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Selain membangun kemampuan praktis, program ini turut menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, kerja sama, serta semangat untuk terus berkarya sebagai fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.
Melalui berbagai program pembinaan yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan, Rutan Gresik menegaskan komitmennya dalam menciptakan warga binaan yang memiliki kompetensi, daya saing, dan kemandirian. Dengan bekal keterampilan yang diperoleh selama masa pembinaan, diharapkan mereka mampu membuka peluang usaha, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta kembali menjadi bagian dari masyarakat yang produktif, bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan sosial maupun ekonomi.
Program pelatihan merajut ini menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan bukan sekadar menjalani masa pidana, melainkan sebuah proses transformasi untuk membangun harapan baru. Dari balik jeruji, setiap helai rajutan yang tercipta menjadi simbol lahirnya keterampilan, kepercayaan diri, dan tekad kuat untuk menata masa depan yang lebih baik (Dd).













