Harganas ke-33 di Kanwil Ditjenpas Jatim Tegaskan Reformasi Dimulai dari Keluarga: Integritas ASN Diperkuat Lewat Fondasi Rumah Tangga Harmonis

Oplus_131072

SIDOARJO —KABAR NUSANTARA ID Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur menegaskan bahwa penguatan integritas aparatur sipil negara (ASN) dan reformasi birokrasi di lingkungan pemasyarakatan harus berakar dari ketahanan keluarga. Hal itu disampaikan dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 yang digelar di halaman Kanwil Ditjenpas Jawa Timur, Senin (29/6/2026), sebagai momentum strategis untuk memperkuat kualitas pengabdian, profesionalisme, serta pelayanan publik yang humanis dan berorientasi pada masyarakat.

Peringatan tahun ini mengangkat tema nasional “Ayah Wajib Hadir”, yang menegaskan kembali bahwa keluarga merupakan ruang utama pembentukan karakter bangsa. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa keterlibatan aktif orang tua, khususnya ayah, tidak hanya penting sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung, dan teladan yang berperan langsung dalam membentuk moral dan kepribadian anak sejak dini.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Kepala Kanwil Ditjenpas Jawa Timur, Kusnali, membacakan amanat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam membentuk karakter, etika, dan integritas seseorang sebelum berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Pemerintah memandang kualitas keluarga sebagai faktor fundamental dalam menentukan keberhasilan pembangunan nasional. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga diposisikan sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam amanat itu juga disoroti tantangan era digital yang semakin kompleks, mulai dari meningkatnya ketergantungan terhadap gawai hingga menurunnya kualitas interaksi dalam keluarga. Kondisi tersebut dinilai dapat mengganggu proses pengasuhan anak apabila tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat dan keterlibatan aktif orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu isu yang mendapat perhatian khusus adalah fenomena fatherless, yaitu berkurangnya peran dan kehadiran figur ayah dalam pengasuhan. Situasi ini dinilai dapat berdampak pada perkembangan emosional, psikologis, dan sosial anak apabila dibiarkan berlarut-larut.

Karena itu, peran ayah ditegaskan tidak lagi sebatas pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung, pembimbing, serta teladan yang hadir secara utuh dalam kehidupan keluarga. Kehadiran kedua orang tua secara seimbang diyakini menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang kuat, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Kusnali menekankan bahwa nilai-nilai ketahanan keluarga harus menjadi bagian yang melekat dalam budaya kerja seluruh insan pemasyarakatan. Menurutnya, keluarga yang harmonis akan melahirkan aparatur yang memiliki integritas, disiplin, loyalitas, serta tanggung jawab tinggi dalam menjalankan tugas sebagai pelayan publik.

Ia juga menegaskan bahwa kualitas kinerja aparatur sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga. Dukungan keluarga yang kuat akan menjadi sumber stabilitas emosional, motivasi, dan etos kerja yang pada akhirnya berdampak langsung pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Semangat Hari Keluarga Nasional harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan dalam bekerja tidak terlepas dari dukungan keluarga. Ketika keluarga terbangun dengan baik, maka integritas, pengabdian, dan profesionalisme pegawai akan semakin kuat,” ujar Kusnali.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan budaya kerja di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya bertumpu pada aspek teknis dan kedisiplinan, tetapi juga pada pembentukan karakter aparatur yang berlandaskan nilai kemanusiaan, etika, dan nilai-nilai keluarga sebagai sumber moral utama.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Kanwil Ditjenpas Jawa Timur turut memberikan penghargaan kepada tiga pegawai berprestasi dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Blitar. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, loyalitas, disiplin, serta inovasi dalam pelaksanaan tugas pemasyarakatan.

Penghargaan ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi seluruh jajaran untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat integritas, serta membangun budaya kerja yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Momentum Harganas ke-33 juga menjadi refleksi bahwa reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas layanan pemasyarakatan tidak dapat dipisahkan dari kekuatan nilai-nilai keluarga. Dari keluarga yang kuat dan harmonis, akan lahir aparatur yang profesional, berintegritas, serta memiliki komitmen tinggi terhadap pelayanan publik.

Melalui peringatan Harganas Tahun 2026 ini, Kanwil Ditjenpas Jawa Timur kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan profesionalisme kerja sebagai fondasi utama dalam membentuk ASN pemasyarakatan yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan. Dengan keluarga sebagai sumber kekuatan moral dan inspirasi pengabdian, jajaran pemasyarakatan diharapkan mampu memperkuat sistem pemasyarakatan yang modern, humanis, dan terpercaya, sekaligus berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pelayanan publik yang semakin berkualitas, transparan, dan berintegritas (Dd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *